Pare, Sayur Pahit Penghasil Duit

Barayanews.co.id – Karena rasanya yang dominan pahit, tidak semua orang suka dengan sayur yang satu ini. Biasanya, sayur ini jadi pelengkap dalam olahan tradisional, atau jadi panganan utama bagi kaum hawa yang memanjakan kulitnya.

Kali ini, barayanews.co.id akan mengulas sayuran hijau bernama Peria atau Pare, masyarakat Jawa Barat menyebutnya dengan Paria dari mulai penanaman hingga penjualannya.

Si sayur pahit ini menjadi primadona pendulang rupiah bagi kelompok tani di Kota Bogor.

Salah satu Kelompok Wanita Tani (KWT) di wilayah Kampung Karya Bhakti, RW 04, Kelurahan Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor mengaku, Pare ini menjadi komoditi pasar yang tidak pernah kekurangan konsumen.

Pasalnya, sekali panen, si pahit ini bisa menghasilkan 300kg sampai 700kg. Tak aneh, jika KWT ini bisa menjual Pare dengan total 5 ton setiap panennya.

Hal itu dikatakan Yani, Ketua KWT Berkarya saat ditemui di kebunnya usai panen baru-baru ini.

“Sekali panen bisa sampai 300kg, keduanya bisa 700kg, dengan jangka waktu 4 harian setiap kali panen. Kalau diakumulasi bisa sampai 5ton pare kita jual,” tuturnya.

Ia menambahkan, pada masa pandemi ini komoditi sayuran termasuk Pare tidak mengalami penurunan konsumen. “Alhamdulillah pandemi ini, sayuran atau umumnya sektor pertanian tidak mengalami penurunan. Sejauh ini lancar terus. Karena kami tidak hanya menanam Pare, sayuran jenis lain pun sama,” tambahnya.

Setelah dilakukan penyortiran, hasil panen Pare jenis Hokian ini dikemas dalam plastik sebelum didistribusikan ke salah satu pasar di Kabupaten Bogor. “Kita sortir dulu sebelum packing. Biasanya ada yang kena hama. Persentase sedikit yang busuk. Satu kantong besar itu diisi kurang lebih 24kg. Satu kilonya dihargai dengan kisaran Rp5000 sampai Rp7000,” kata Yani.

“Peria yang dihinggapi hama jenis Lalat buah (Ngengat) ini buah yang tumbuh dibawah dan langsung menyentuh ke tanah. Makanya diusahakan si buahnya ga nempel di tanah,” tambahnya.

Sementara, dalam pembudidayaannya, lanjut Yani, sayuran Peria ini tidak membutuhkan perawatan yang sulit dan ‘ribet’. Hanya saja si hijau pahit ini membutuhkan cahaya matahari yang cukup dalam pertumbuhannya.

“Lazimnya pare ini tumbuh di musim kemarau. Jadi, musim hujan agak ada penurunan. Tapi tidak signifikan. Sayuran jenis pare ini terbilang tanaman yang bandel dengan perubahan musim atau cuaca,” jelasnya.

Sayuran yang biasa dikonsumsi menjadi tumisan atau lalapan ini ditanam di lahan seluas 3.500 meter persegi. KWT Berkarya ini menjaga fluktuasi pangsa pasar dengan mengganti komoditi. Selain Peria, Yani Cs juga menanam sayuran jenis Mentimun dan terung.

“Pergantian penamanan dibutuhkan agar memperbaiki kesuburan tanah. Kita seling dengan terung dan mentimun. Setelah panen diistirahatkan dulu tanahnya. Unsur haranya harus baik dalam melakukan penanaman. Selain itu, karena kita juga menjaga fluktuasi pangsa pasar. Tapi kondisi tersebut kita sudah memahami. Sudah biasa,” pungkasnya.

Buah dengan tekstur panjang bergelombang ini dipanen dalam waktu kurang lebih dua bulan dari masa penanaman.

KWT Berkarya ini mempekerjakan 3 orang tenaga professional dan 5 orang warga setempat untuk memberdayakan potensi di wilayah.

Yani menjelaskan dengan hasil panen baik itu Peria, Mentimun ataupun jenis sayuran lain merupakan bentuk ketahanan pangan. “Paling tidak untuk di rumah sendiri kami tidak usah beli. Jadi untuk ketahanan pangan juga,” tutupnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan